Biografi Imam Bukhari - Belajar Islam Ahlussunnah


Seorang Muslim (atau mungkin juga non Muslim) yang mempelajari agama Islam pastilah tidak terlepas dari Al Qur’an dan Hadits-hadits. Karena Islam bangkit di atas kedua masalah tersebut. Dan keduanya merupakan sumber dari segala sumber aturan dalam Islam.

Nah , pada kesempatan kali ini , kami ingin berbagi mengenai seorang imam hebat (ulama) hadits , yang kita kenal Dengan nama Al Imam Al Bukhari Rahimahullah (semoga Allah Ta'ala merahmati ia). Seorang imam yang mulia , yang sungguh luar biasa keilmuannya , bahkan kitab shahih ia (Bukhari) disepakati oleh para ulama Ahlussunnah wal jama’ah sebagai kitab paling shahih (otentik , kredibel) sesudah Al Qur’an.
Wallahualam.



Nаmа dаn Nаѕаbnуа

Beliau berjulukan Muhammad , putra dari Isma’il bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al-Ju’fi , umumdipanggil dengan sebutan Abu ‘Abdillah.

Beliau dilahirkan pada hari Jum’at sesudah shalat Jum’at 13 Syawwal 194 H di Bukhara (Bukarest) Ketika masih kecil , ayahnya yakni Isma’il sudah meninggal sehingga dia pun diasuh oleh sang ibu. Ghinjar dan Al-Lalika’i menceritakan bahwa ketika kecil kedua mata Bukhari buta.

Suatu di saat ibunya berkhayal menyaksikan Nabi Ibrahim berkata kepadanya , “Wahai ibu , sesungguhnya Allah sudah memulihkan penglihatan putramu alasannya banyaknya doa yang kamu panjatkan terhadap-Nya.” Pagi harinya dia dapati penglihatan anaknya telah sembuh (lihat Hadyu Sari , hal. 640)

Sаnjungаn Pаrа Ulаmа Kераdаnуа

Abu Mush’ab rahimahullah (di dalam cetakan tertulis Abu Mu’shab , tampaknya ini salah tulis karena dalam kalimat sesudahya ditulis Abu Mush’ab , pent) Ahmad bin Abi Bakr Az Zuhri mengatakan , “Muhammad bin Isma’il (Bukhari) lebih fakih dan lebih memahami hadits dalam persepsi kami daripada Imam Ahmad bin Hambal.” Salah seorang sahabat duduknya berkata kepadanya , “Kamu terlalu berlebihan.”

Kemudian Abu Mush’ab justru menyampaikan , “Seandainya aku berjumpa dengan Malik (lebih senior dibandingkan dengan Imam Ahmad , pent) dan aku pandang wajahnya dengan tampang Muhammad bin Isma’il niscaya saya akan menyampaikan: Kedua orang ini sama dalam hal hadits dan fiqih.” (Hadyu Sari ,hal. 646)

Qutaibah bin Sa’id rahimahullah mengatakan , “Aku telah duduk bareng para mahir fikih , hebat zuhud , dan jago ibadah. Aku belum pernah melihat sejak saya bisa berpikir ada seorang insan yang seperti Muhammad bin Isma’il. Dia di masanya seperti halnya Umar di kelompok para sahabat.” (Hadyu Sari ,hal. 646)

Muhammad bin Yusuf Al Hamdani rahimahullah menceritakan: Suatu saat Qutaibah ditanya ihwal perkara “perceraian dalam kondisi mabuk” , lalu masuklah Muhammad bin Isma’il ke ruangan tersebut. Seketika itu pula Qutaibah menyampaikan kepada si penanya , “Inilah Ahmad bin Hambal , Ishaq bin Rahawaih , dan Ali bin Madini yang sudah dihadirkan oleh Allah untuk menjawab pertanyaanmu.” Seraya mengisyaratkan terhadap Bukhari (Hadyu Sari ,hal. 646)

Ahmad bin Hambal rahimahullah mengatakan , “Negeri Khurasan belum pernah melahirkan orang yang seperti Muhammad bin Isma’il.” (Hadyu Sari , hal. 647)

Bundar Muhammad bin Basyar rahimahullah menyampaikan tentang Bukhari , “Dia yakni makhluk Allah yang paling fakih di zaman kami.” (Hadyu Sari , hal. 647)

Hasyid bin Isma’il rahimahullah menceritakan: Ketika saya berada di Bashrah aku mendengar kedatangan Muhammad bin Isma’il. Ketika dia tiba , Muhammad bin Basyar pun mengatakan , “Hari ini sudah datang seorang pemimpin para fuqoha’.” (Hadyu Sari ,hal. 647)

Muslim bin Hajjaj rahimahullah -penulis Shahih Muslim , murid Imam Bukhari-mengatakan , “Aku bersaksi bahwa di dunia ini tidak ada orang yang mirip dirimu (yaitu seperti Bukhari).” (Hadyu Sari ,hal. 650)

Kеkuаtаn Hаfаlаn Imаm Bukhаrі dаn Kесеrdаѕаnnуа

Muhammad bin Abi Hatim Warraq Al Bukhari menceritakan: Aku mendengar Bukhari mengatakan , “Aku mendapatkan ide untuk menghafal hadits ketika aku masih berada di sekolah baca tulis (kuttab).” Aku berkata kepadanya , “Berapakah umurmu ketika itu?” Dia menjawab , “Sepuluh tahun atau kurang dari itu. Kemudian sesudah lulus dari Kuttab , saya pun bolak-balik menghadiri majelis haditsnya Ad-Dakhili dan ulama hadits lainnya. Suatu hari tatkala membacakan hadits di hadapan orang-orang dia (Ad-Dakhili) menyampaikan , ‘Sufyan meriwayatkan dari Abu Zubair dari Ibrahim.’ Maka aku katakan kepadanya , ‘Sesungguhnya Abu Zubair tidak meriwayatkan dari Ibrahim.’ Maka dia pun menghardikku , lalu aku berkata kepadanya , ‘Rujuklah terhadap sumber aslinya , jika kau punya.’ Kemudian dia pun masuk dan menyaksikan kitabnya lantas kembali dan berkata , ‘Bagaimana kau bisa tahu wahai anak muda?’ Aku menjawab , ‘Dia yaitu Az Zubair (bukan Abu Zubair , pen). Nama aslinya Ibnu Adi yang meriwayatkan hadits dari Ibrahim.’ Kemudian dia pun mengambil pena dan membenarkan catatannya. Dan dia pun berkata kepadaku , ‘Kamu benar’. Menanggapi dongeng tersebut , Bukhari ini Warraq berkata , “Biasa , itulah sifat insan. Ketika membantahnya umurmu berapa?” Bukhari menjawab , “Sebelas tahun.” (Hadyu Sari ,hal. 640)

Hasyid bin Isma’il menceritakan: Dahulu Bukhari lazimikut bersama kami bolak-balik menghadiri pelajaran para masayikh (para ulama) di Bashrah , pada dikala itu dia masih kecil. Dia tidak pernah mencatat , sampai-sampai berlalu beberapa hari lamanya. Setelah 6 hari berlalu kami pun mencela kelakuannya. Menanggapi hal itu dia menyampaikan , “Kalian merasa memiliki lebih banyak hadits dibandingkan dengan saya. Cobalah kalian tunjukkan kepadaku hadits-hadits yang sudah kalian tulis.” Maka kami pun mengeluarkan catatan-catatan hadits tersebut. Lalu ternyata dia menyertakan hadits yang lain lagi sebanyak lima belas ribu hadits. Dia membacakan hadits-hadits itu semua dengan kenangan (di luar kepala) , sampai-hingga kami pun risikonya mesti membetulkan catatan-catatan kami yang salah dengan berpedoman terhadap hafalannya (Hadyu Sari ,hal. 641)

Muhammad bin Al Azhar As Sijistani rahimahullah menceritakan: Dahulu aku ikut hadir dalam majelis Sulaiman bin Harb sedangkan Bukhari juga ikut bareng kami. Dia cuma menyimak dan tidak mencatat. Ada orang yang mengajukan pertanyaan kepada sebagian orang yang datang sewaktu itu , “Mengapa dia tidak mencatat?” Maka orang itu pun menjawab , “Dia akan kembali ke Bukhara dan menulisnya berdasarkan hafalannya.” (Hadyu Sari ,hal. 641)

Suatu di saat Bukhari rahimahullah tiba ke Baghdad. Para ulama hadits yang ada di sana mendengar kedatangannya dan ingin menguji kekuatan hafalannya. Mereka pun mempersiapkan seratus buah hadits yang sudah dibolak-balikkan isi hadits dan sanadnya , matan yang satu ditukar dengan matan yang lain , sanad yang satu ditukar dengan sanad yang lain. Kemudian seratus hadits ini dibagi kepada 10 orang yang masing-masing bertugas menanyakan 10 hadits yang berbeda terhadap Bukhari. Setiap kali salah seorang di antara mereka menanyakan kepadanya wacana hadits yang mereka bawakan , maka Bukhari menjawab dengan jawaban yang serupa , “Aku tidak mengetahuinya.” Setelah sepuluh orang ini selesai , maka gantian Bukhari yang berkata kepada 10 orang tersebut satu persatu , “Adapun hadits yang kau bawakan bunyinya demikian. Namun hadits yang benar yaitu demikian.” Hal itu beliau lakukan terhadap sepuluh orang tersebut. Semua sanad dan matan hadits beliau kembalikan terhadap tempatnya masing-masing dan ia mampu mengulangi hadits yang sudah dibolak-balikkan itu cuma dengan sekali dengar. Sehingga para ulama pun mengakui kedigdayaan hafalan Bukhari dan tingginya kedudukan beliau (lihat Hadyu Sari ,hal. 652)

Muhammad bin Hamdawaih rahimahullah menceritakan: Aku pernah mendengar Bukhari menyampaikan , “Aku hafal seratus ribu hadits sahih.” (Hadyu Sari ,hal. 654). Bukhari rahimahullah mengatakan , “Aku menyusun kitab Al-Jami’ (Shahih Bukhari ,pent) ini dari enam ratus ribu hadits yang sudah saya dapatkan dalam waktu enam belas tahun dan aku akan menjadikannya sebagai hujjah antara diriku dengan Allah.” (Hadyu Sari ,hal. 656)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menuturkan bahwa apabila Bukhari membaca Al-Qur’an maka hati , pandangan , dan pendengarannya sibuk menikmati bacaannya , dia memikirkan ungkapan-istilah yang terdapat di dalamnya , dan mengenali aturan halal dan haramnya (lihat Hadyu Sari ,hal. 650)

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membalas jasa-jasa beliau dengan sebaik-baik jawaban dan memasukkannya ke dalam Surga Firdaus yang tinggi. Dan semoga Allah menyebabkan kita tergolong orang-orang yang mampu melanjutkan perjuangannya dalam membela Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyebarkannya kepada umat insan. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

***

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Sumbе

Demikian agar berfaedah.
posted from Blоggеrоіd

Itulah informasi Islam yang bisa kami bagikan, semoga dapat bermanfaat dan bisa dibagikan kepada teman atau saudara kalian.
Sumber http://islamypersona.blogspot.com/

Belum ada Komentar untuk "Biografi Imam Bukhari - Belajar Islam Ahlussunnah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan

Dapatkan Promonya

Iklan Bawah Artikel